Wakaf Bisa Topang Ekonomi Nasional saat Resesi
Sekretaris Ditjen Tuntunan Warga Islam Kementerian Agama (Kemenag), Muhammad Fuad Nasar, memandang wakaf adalah instrumen penting untuk menyokong perekonomian Indonesia di tengah-tengah periode kritis. Khususnya waktu negara terancam krisis untuk kuartal III 2020 ini karena pandemi wabah Covid-19.
"Peningkatan wakaf jadi satu diantara rumor penting selaku buffer penyangga ekonomi nasional kita yang tengah hadapi krisis," kata Fuad dalam dialog virtual Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2020, Jumat (30/10/2020).
Menurutnya, pergerakan wakaf mendapatkan momen baru dengan terafirmasinya peraturan pendayagunaan dana sosial keagamaan. Pemerintahan sudah memasukkan peningkatan kelembagaan ekonomi umat dalam program fokus nasional untuk Gagasan Pembangunan Periode Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.
"Pemerintahan lewat Kementerian Agama RI mempunyai peranan yang vital selaku regulator serta aktifator pengendalian (dana) wakaf sama perundang-undangan," papar Fuad.
Fuad mengatakan, perkembangan ekonomi serta keuangan syariah dengan suport instrumen wakaf sebaiknya ditaruh dalam kerangka memakmurkan bangsa. Sinergitas peraturan lintas kewenangan dikatakannya harus memberi andil pada ekosistem wakaf, bahkan juga mencapai semua penopang kebutuhan pada tingkat pusat atau wilayah
bandar bola online terpercaya keseruan dalam bertaruh online "Sekian tahun akhir-akhir ini makin diakui keutamaan perkuat ekosistem serta kolaborasi peningkatan wakaf. Peningkatan tata atur wakaf membutuhkan ekosistem yang meningkatkan jalinan bolak-balik beberapa pembikin peraturan serta pegiat di atas lapangan," katanya.
"Searah dengan spirit pengokohan ekosistem pendayagunaan wakaf, karena itu peraturan, tata atur, susunan kelembagaan, literasi dan lain-lain harus lebih terkonsolidasi serta bekerjasama lebih sinergis dengan lingkungan external yang berkembang dengan aktif," hebat ia.
Selanjutnya, Fuad memandang ide Waqf Core Principles (WCP) yang dilaksanakan Bank Indonesia (BI), Tubuh Wakaf Indonesia (BWI) serta Research of Pelatihan Institute Islamic Development Bank (IRTI IsDB), selaku cara riil dalam perkuat infrastruktur tata atur perwaqafan supaya makin bersaing serta memberi imbas yang lebih riil ke warga.
"Pasti kita membutuhkan bikin biru (blueprint) pendayagunaan wakaf selaku gagasan induk peningkatan wakaf dalam periode pendek, periode menengah, serta periode panjang," tutur Fuad.
Awalnya, Wakil Presiden (Wakil presiden) Ma'ruf Amin merencanakan untuk bikin Pergerakan Nasional Wakaf Tunai (GNWT). Itu dilaksanakan untuk memperlebar keterlibatan warga dalam kumpulkan dana sosial. Dana itu akan digunakan buat memberikan dukungan pemercepatan pembangunan nasional serta kesejahteraan warga.
Menurutnya, wakaf tunai itu adalah kekuatan besar yang belum tergali. Karena, penggunaan dana wakaf sejauh ini cenderung digunakan untuk bansos di lingkungan mushola, madrasah, sampai proses penyemayaman.
"Kita coba wakaf ini kita bangun kembali agar kelak jadi dana besar yang dapat diinvestasikan, ditingkatkan dalam periode panjang. Ini untuk menolong metode keuangan nasional, perkuat," kata Ma'ruf Amin, Sabtu (24/10/2020).
Ma'ruf menjelaskan, dia tengah pikirkan bagaimana triknya supaya program GNWT dapat kumpulkan dana wakaf tunai untuk kebutuhan nasional. Ia menyarankan supaya manajemen pengendalian dananya bisa terorganisir secara baik, hingga memunculkan keyakinan dari warga.
"Karena dana wakaf itu menjadi instrumen penting dalam membuat kesejahteraan warga. Di beberapa negara itu telah jadi instrumen," papar ia.
Selanjutnya, Ma'ruf Amin pengin supaya proses service sertifikasi produk halal dapat dipermudahkan. Ia mengharap, nanti akan ada service sertifikasi halal terintegrasi di tiap teritori industri.
"Jadi mereka di sana mendapatkan servis, keringanan lainnya, terhitung sertifikasi halal. Menjadi proses halalnya ada dalam tempat," tutur ia.
